Rabu, 27 Oktober 2010

TUGAS LIBRARY DISCUSSION

KOMUNIKASI PENDIDIKAN
1. SIAPA KOMUNIKATOR PENDIDIKAN ISLAM?
2. JELASKAN RUANG LINGKUP KOMUNIKASI PENDIDIKAN!
3. APA FAKTOR YANG MENDUKUNG DAN MENGHAMBAT KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BERIKAN SATU CONTOH?
4. APA PERBEDAAN ANTAR KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN KOMUNIKASI PEMBELAJARAN?
5. BERIKAN CONTOH KOMUNIKASI YANG EFEKTIF!

KOMUNIKASI PENDIDIKAN

KOMUNIKASI PENDIDIKAN
(Upaya Mengefektifkan Sistem Informasi Dan Komunikasi Pendidikan Islam)

A.Pendahuluan
Manusia sebagai makhluk sosial, tidak akan pernah lepas dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Manusia akan menjadi manusia, karena berhubungan dengan manusia. Meskipun keberadaan alam dan lingkungan sekitarnya sangat penting, namun perannya hanya sebagai pelengkap dalam proses kehidupan ini. Maka keberadaan satu sama lainnya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan.
Untuk berhubungan dengan sesamanya, tentu saja membutuhkan suatu sarana agar persepsi diantara keduanya dapat diterima. Sarana tersebut adalah melalui Komunikasi. Komunikasi berasal dari kata latin communis yang berarti “sama” communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama”.
Definisi komunikasi yang mudah dan gampang di ungkapkan menurut Harold Lasswell, yakni who says what in which chanel to whom with what effect atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana. Komunikasi merupakan proses interaksi sosial yang digunakan orang untuk menyusun makna yang merupakan citra mereka mengenai dunia dan untuk bertukar citra itu melalui simbol-simbol.
Seperti kita ketahui, adanya suatu bentuk pasti terdapat elemen-lemen yang menjadikan sesuatu itu ada. Demikian juga halnya dengan komunikasi. Komponen tersebut yakni, pertama Sumber (source) sering juga disebut pengirim (sender), penyaji (weoder), komunikator (communicator), pembicara (speacker), atau originator, yakni pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, baik secara individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan negara.
Kedua, adalah pesan, yaitu merupakan simbol verbal dan atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan dan lain-lain. Ketiga, adalah saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesan kepada penerima. Ke-empat, penerima (receiver) sering juga disebut sasaran atau tujuan (destination), penyandi balik (decoder), komunikate (communicate) atau khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (interpreter) yakni orang yang menerima pesan. Kelima, efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya pemahaman, perubahan, perubahan keyakinan, perubahan prilaku dan sebagainya.
Secara sederhana proses komunikasi tersebut digambarkan sebagai berikut:

Sumber: Usman Abu Bakar (2003)

Adapun tujuan diadakannya komunikasi, menurut Gordon I Ziemmerman dibagi menjadi 2 kategori besar. pertama, kita berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi kehidupan kita. Kedua, kita berkomunikasi untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain. Jadi komunkasi mempunyai fungsi isi, yang melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas, dan fungsi hubungan yang melibatkan pertukaran informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain.
Sedangkan fungsinya, menurut Rudolph F Verderber ada 2, yakni fungsi sosial, yakni untuk tujuan kesenangan, untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan. Dan fungsi pengambilan keputusan, yakni memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada suatu saat tertentu. Seperti, apa yang akan kita makan pagi ini, apakah kita akan kuliah atau tidak, bagaimana belajar untuk menghadapi ujian dan lain sebagainya.
Di dalam suatu sistem informasi dan komunikasi, sifat komunikasi terdapat sistem tertutup dan terbuka. Artinya, dari situ kita dapat mengetahui apakah sistem tersebut tidak menerima input dari luar atau dapat menerima input dari luar. Dengan demikian proses interaksinya tidak hanya terjadi di antara komponen dan atribut yang berada di dalam suatu kapsul, tetapi juga dengan lingkungannya. Oleh karena itu, proses balikannya dapat menghasilkan perubahan yang tidak mutlak bersifat normative, tetapi bersifat lentur dan terbuka untuk perkembangan dan pembaruan (deskriptif).
Semua proses komunikasi ini, terjadi dalam suatu konteks atau keterpaduan tertentu. Paling sedikit proses ini akan mencakup dimensi-dimensi kejiwaan (perilaku para pelaku), sosial atau komunitas, fisik, serta waktu. Artinya proses komunikasi tersebut akan sangat dipengaruhi oleh sikap dan motivasi komunikasi sebagai sumber, daya tangkap, sikap komunitas sebagai interlocutor (kawan bicara) kecukupan sarana, serta kesempatan waktu.

B. Komunikator dalam Pendidikan Islam.
Dalam masyarakat informasi, definisi manajer yang benar adalah bukannya mereka yang mampu memberikan pencapaian produksi yang banyak, efektif dan efisien, tetapi adalah mereka yang mampu memberikan tanggung jawab pada penampilan nilai-nilai kemanusiaan dan penampilan keilmuwan yang tinggi sekaligus. Dengan demikian, knowledge tidak semata-mata menjadi alat ketiga, tetapi telah berubah menjadi sistem kerja dalam tata kehidupan bersama. Dan sejak itu pula, modal kerja telah bertambah menjadi “sumberdaya alam”, “sumberdaya manusia”, dan kini bertambah satu lagi yakni “sumberdaya Ilmu”.
Dalam dunia Pendidikan, yang menjadi komunikator adalah seluruh komponen yang ada di dalam lembaga tersebut. Mulai dari Kepala Sekolah, Dewan Guru, Staf karyawan, Murid, sarana prasarana, kurikulum, dan lain sebagainya. Oleh karena itu tanggung jawab seorang manajer terletak pada masing-masing komponen tersebut, artinya masing-masing komponen bertanggung jawab atas kapasitasnya.
Pada setiap penelitian khusus mengenai pekerjaan-pekerjaan perusahaan/lembaga –lembaga pendidikan khususnya¬- umumnya dilakukan oleh subsistem penelitian Sumberdaya manusia. Penelitian ini mengungkapkan tugas-tugas pekerjaan yang harus dilaksanakan, pengesahan dan keahlian yang diperlukan, dan tingkat kompensasi yang sesuai. Maka Sumberdaya manusia harus mengetahui perkembangan yang terjadi yang terakhir dari berbagai pengaruh lingkungan yang mempengaruhi arus personil, karena semua ini merupakan tanggung jawab subsistem Intelijen Sumberdaya Manusia.
Adapun tantangan terhadap pembangunan Sistem Informasi ini, sebagaimana terdapat dalam GIS (Global Information System) yakni:
1.Tantangan Teknologi
Kadang-kadang sebuah lembaga dipaksa menggunakan perangkat berat, perangkat lunak dan fasilitas komunikasi tertentu, karena keterbatasan pemerintah. Keterbatasan ini menyulitkan tercapainya standar perangkat keras dan perangkat lunak secara global dan menambah waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan sistem itu.
2.Tantangan Budaya
Yang lebih sulit adalah tugas menerapkan teknologi komputer dalam berbagai budaya yang berbeda. Budaya mempengaruhi kinerja spesialis informasi dan kebutuhan informasi pemakai.

Dalam bidang pendidikan, manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep dan teori manajemen dalam aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Untuk menjalankan organisasi pendidikan, diperlukan manajemen pendidikan yang efektif. Sekolah harus dikelola dengan manajemen efektif yang mengembangkan potensi peserta didik sehingga memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang mengakar pada karakter bangsa. Dengan kata lain, salah satu strategi yang menentukan mutu pengembangan SDM di sekolah untuk kepentingan bangsa dimasa depan adalah peningkatan kontribusi manajemen pendidikan yang berorientasi mutu (quality oriented).
Dalam realitasnya, tantangan krusial yang dihadapi oleh manajer atau pengelola lembaga pendidikan, dewasa ini, yakni bagaimana upaya mengelola sekolah, akademi dan universitas agar dapat berkembang dan berkualitas. Kerja keras tersebut tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya proses saling mendukung antara peserta didik, yakni guru, siswa, sarana prasarana kurikulum dan lainsebagainya.
Institusi pendidikan perlu dikelola untuk mencapai hasil yang optimal. Disini hasil optimal itu ditandai mutu kelulusan yang andal dan sesuai dengan harapan masyrakat. Hal ini penting dan strategis sekali karena peranan pendidikan terkait dengan masa depan suatu bangsa. Karena keberhasilan dalam pendidikan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa.
Manajemen mutu dalam pendidikan dapat saja disebutkan “mengutamakan pelajar” atau “problem perbaikan sekolah”, yang mungkin dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif. Penekanan paling penting bahwa mutu terpadu dalam programnya dapat mengubah kultur sekolah. para pelajar dan orang tuanya menjadi tertarik terhadap perubahan yang ditimbulkan manajemen mutu terpadu melalui berbagai program perbaikan mutu.
Adapun, aplikasi TQM (Total Quality Manajemen) dalam satuan pendidikan dapat pula disebut Total Quality School (TQS) sebagaimana Acaro (1995) mengemukakan 5 pilarnya yaitu :
1.Fokus kepada pelanggan, baik internal maupun eksternal
2.Adanya keterlibatan total
3.Adanya ukuran baku mutu kelulusan sekolah
4.Adanya komitmen, dan
5.Adanya perbaikan yang berkelanjutan.
Semua itu akan berjalan dengan baik apabila mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan, yakni peserta didik, masyarakat dan pemerintah.

C.Massage (Pesan) yang Efektif
Seluruh kegiatan yang ada dalam satuan lembaga pendidikan adalah pesan. Secara spesifik pesan tersebut dapat terlihat melalui publikasi baik secara lisan maupun tertulis. Sarana yang digunakanpun bermacam-macam, sesuai dengan keinginan maupun kemampuan finansial lembaga tersebut.
Pesan yang disebarkan melalui media masa ini bersifat umum (public), karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Jadi tidak ditujukan kepada perseorangan atau kepada sekelompok tertentu.
Isi pesan dalam Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Islam adalah segala yang ada di dalam lembaga pendidikan. Semua aspek yang terdapat dalam lembaga tersebut terdapat komponen-komponen yang dianggap menjadi pesan efektif yakni:
1.Komponen Teknologi Pendidikan meliputi:
a.Asumsi-asumsi kebutuhan serta rumusan tujuan pendidikan dan pengajaran yang dirancang untuk keperluan proses belajar mengajar.
b.Memahami pengalaman belajar subjek didik dan pemilihan cara-cara pengajaran.
c.Tenaga kependidikan, bahan dan alat pendidikan serta fasilitas phisik yang diperlukan.
d.Sumber belajar yang diperlukan untuk pengalaman belajar subjek didik.
e.Hasil belajar yang diharapkan, evaluasi dan pengembangan.

2.Komponen Fasilitas dan sumber belajar Teknologi Pendidikan, meliputi:
a.Terjadi objek nyata yang akan disajikan selama proses belajar mengajar berjalan.
b.Pemanfaatan semua fasilitas dan sumber belajar akan disesuaikan dengan setiap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
c.Mutu pendidikan tidak sekedar tersedianya semua sarana media akan tetapi lebih banyak tergantung kepada kemampuan pendidik dan sekolah dan sekolah dalam menggunakannya, memilih dengan cermat dan tetap sesuai dengan metoda yang diterapkan.

3.Citra Pendidikan Berorientasi Mutu Hasil meliputi:
a.Memiliki kelengkapan fasilitas dan sumber belajar diperhatikan dari kondisi bangunan pusat-pusat pendidikan.
b.Mengikuti trend perkembangan bahan dan alat belajar mengajar dengan teknologi pendidikan.
c.Memiliki kelengkapan sarana sumber belajar di luar sekolah.
d.Memiliki kelengkapan pusat media dan sumber belajar (pada tingkat perguruan tinggi) serta tenaga ahli teknologi pendidikan.

4.Profesionalisme Staf Ahli Teknologi Pendidikan, meliputi;
a.Profesional media, yakni semua tenaga ahli media, bertanggung jawab atas perencanaan, pengembangan, pemanfaatan serta peningkatan mutu fasilitas sumber belajar.
b.Spesialis media, staf ahli yang bertanggung jawab pada pusat sumber belajar.
c.Manajer program media bertugas dan bertanggung jawab pada pusat media dan sumber belajar di pemerintahan.
d.Teknisi media, tenaga staf yang bertanggung jawab dan memiliki keterampilan oleh data elektronik.
e.Administrator media, staf yang melayani admisi pusat-pusat media.
f.Ahli evaluasi media.

Salah satu isi pesan dalam Komunikasi Pendidikan Islam adalah Proses di dalam Total Quality School. Proses tersebut digambarkan sebagai berikut:
Total Quality School
















Proses selanjutnya adalah:

Total Quality School









\








D.Media sebagai sarana Proses Transformasi dalam Komunikasi Pendidikan Islam.
Sebuah pesan tidak dapat diterima oleh audiens apabila tidak pernah dikomunikasikan. Untuk mengkomunikasikan pesan tersebut sangat dibutuhkan akan adanya media, baik elektronik maupun media cetak. Maka peran media menjadi penentu, apakah pesan tersebut efektif atau sebaliknya terjadi miskomunikasi.
Media ini dapat diibaratkan seperti pedang bermata dua. Dia merupakan alat yang ampuh dalam memberikan manfaat yang semaksimal mungkin kepada masyarakat sesuai dengan ketepatan dan besarnya pengarahan. Media yang sehat dapat memainkan peranan penting dalam membina generasi dan mendorongnya menaiki jenjang kemajuan. Demikian juga sebaliknya, media dapat merusak generasi muda yang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri.
Untuk menyiasati media massa, kita harus mengenal seluk beluk Jurnalistik. Dunia jurnalistik sangat erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik merupakan salah satu bentuk spesialisasi dari komunikasi massa, yakni komunikasi yang dilakukan melalui media massa. Media massa yang kita kenal saat ini adalah; a) media cetak, terdiri dari surat kabar, tabloid, majalah, b) media elektronik, terdiri dari radio, televisi, dan lain-lain.
Komunikasi bermedia komputer, internet, dapat memperlancar penanggulangan hambatan-hambatan karena terbatasnya ruang dan waktu. Jadi lokasi secara fisik sudah tidak relevan lagi. Dengan teknologi baru bermedia komputer ini, setiap orang ataupun pegawai dapat berhubungan dengan siapapun, dan dimanapun dalam organisasinya.
Sudah bukan masalah lagi apakah mereka dalam satu gedung atau mereka dipisahkan oleh jarak geografis. Karena pesan-pesan komunikasi bermedia komputer dapat menerobos hirarki tradisional dan hambatan-hambatan departemennya dengan mudah, batas-batas organisasi dapat hilang karena hubungan yang melekat dengan proses komunikasi organisasi, komunikasi bermedia komputer dapat menentukan norma-norma, prilaku, dan keputusan organisasi. Jadi implikasi sistem komunikasi bermedia komputer harus menjadi perhatian pokok semua orang..
Setiap media komunikasi mempunyai Gramatika. Setiap gramatika media dibiaskan untuk kepentingan indera tertentu, bukan untuk kepentingan waktu/ruang, karena orang-orang menggunakan media tertentu, mereka secara berlebihan mengandalkan indera yang berkaitan dengan media tersebut. Maka sampai tahap ini, media merupakan perpanjangan dari indera manusia, berbicara sebagai perpanjangan indera untuk suara, cetakan merupakan perpanjangan dari indera untuk penglihatan, dan media elektronik tertentu, terutama televisi adalah perpanjangan indera peraba (perasaan, sentuhan, sistem syaraf).
Dalam bentuk yang sederhana, lembaga pendidikan juga dapat menggunakan brosur-brosur, pamflet, majalah, kostum, sticker, serta berbagai souvenir (cinderamata) yang didesain dengan mencantumkan nama lembaga tersebut. Selain itu dapat juga dengan mempublikasikan bentuk-bentuk kegiatan sosial seperti Seminar, event-event turnamen, bahkti sosial maupun kegiatan-kegiatan lainnya.
Dengan sosialisasi yang demikian, secara otomatis khalayak dapat menangkap pesan yang disampaikan melalui pemberitaan. Karena berita adalah informasi yang lebih atau kurang penting dibutuhkan orang dalam melakukan penyesuaian terhadap keadaan yang berubah, berita dicari, bahkan dengan pengorbanan besar, karena diperlukan untuk memperoleh posisi dalam dunia yang berubah dengan cepat.

E.Khalayak/ stakeholder yang dituju.
Khalayak atau masyarakat adalah bagian dari proses komunikasi yang tidak kalah penting, sekaligus menjadi Komunikannya (orang yang menerima pesan). Tanpa ada khalayak informasi akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu peran khalayak sangat dibutuhkan sebagai tempat mensosialisasikan program-program dalam lembaga pendidikan. Khalayak juga sekaligus menjadi pelanggan.
Menurut Soerjono Soekanto, khalayak dapat dibedakan menjadi, rural community dan urban community. Istilah Rural community diterjemahkan sebagai “masyrakat setempat”. Istilah ini menunjuk kepada sebuah warga desa, suku atau bangsa. Cirinya apabila anggota-anggota suatu kelompok, baik kelompok itu besar maupun kecil, hidup bersama sedemikian rupa sehingga merasakan makna yang utama, maka kelompok tadi disebut masyakarat setempat. Adapun yang dimaksud urban community adalah masyarakat perkotaan, yakni masyarakat yang tidak tertentu jumlah penduduknya. Tekanan pengertian “kota”, terletak pada sifat serta ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Khalayak atau komunikan merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi sebagai sasaran yang dituju oleh komunkator yang bersifat heterogen. Dalam keberadaannya secara terpencar-pencar, dimana satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontrak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai hal, jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita dan lain sebagainya.
Adapun ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat kedalam suatu lapisan serta seberapa besar pengaruhnya adalah sebagai berikut:
1.Ukuran kekayaan. Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas.
2.Ukuran Kekuasaan. Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar, menenpati lapisan teratas.
3.Ukuran kehormatan. Orang yang paling disegani dan dihormati mendapat tempat yang teratas
4.Ukuran Ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang mengharagai ilmu pengetahuan.
Perkembangan masyarakat mempunyai tujuan untuk terjadinya; a) peningkatan kesejahteraan hidup dan kualitas kehidupan masyarakat, b) pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan, dan c) terjabarnya kebijaksanaan dan program pembangunan nasional untuk masyarakat pedesaan, dengan menitik beratkan pada prakarsa masyarakat itu sendiri. Singkatnya, pembangunan masyarakat merupakan upaya wajar yang didasarkan atas kebutuhan individual, masyarakat, dan pemerintah serta potensi-potensi yang tersedia atau dapat disediakan untuk mewujudkan kemajuan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Sedangkan masyarakat informasi ditandai oleh: pertama, kebutuhan terhadap sumberdaya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. Kedua, lapangan kerja yang dominant di bidang informasi. Ketiga, teknologi dasar yaitu elektronika dan computer. Ke-empat, lembaga pemicu kemajuan adalah universitas riset, dan Kelima adalah media komunikasi menggunakan media interkatif.

F. Feed Back (umpan balik) yang diharapkan.
Feed back (umpan balik) merupakan akhir dari sebuah proses komunikasi. Komunikasi yang baik, akan menghasilkan umpan balik yang baik juga. Umpan balik ini diberikan oleh komunikan atau khalayak kepada komunikator. Umpan balik juga terwujud dalam bentuk yang berbeda-beda misalnya menerima, menerima dengan syarat, ataupun menolak.
Semua jenis umpan balik tersebut tertuang dalam bentuk Opini Publik (Social Judgement). Opini publik adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat komunitas, cara singkat untuk melukiskan kepercayaan atau keyakinan yang berlaku di masyarakat tertentu. Artinya pendapat atau pandangan tentang sesuatu. Karena itu, opini bersifat subjektif karena pandangan atau penilaian seseorang dengan selalu berbeda. Jadi, kendati faktanya sama, namun ketika orang beropini, antara orang yang satu dengan yang lainnya memperlihatkan adanya perbedaan.
Opini dapat dinyatakan secara aktif maupun pasif. Opini dapat dinyatakan secara verbal, terbuka dengan kata-kata yang dapat ditafsirkan secara jelas ataupun melalui pikiran-pikiran kata yang sangat halus (dalam Koran misalnya) dan tidak langsung dapat diartikan.
Disinilah tantangan terberat yang harus dihadapi oleh manajemen informasi pendidikan Islam. Sebaik apapun publikasi yang dilakukan, apabila sudah ditangkap oleh khalayak akan menjadi multi-interpretasi. Tentunya persiapan mental lebih utama daripada perangkat keras lainnya.
Proses opini tersebut melalui tiga tahap: pertama, konstruksi personal, yakni tahap dimana individu mengamati segala sesuatu, menginterpretasikannya dan menyusun makna objektif secara sendiri-sendiri dan subjektif. kedua, konstruksi sosial, yakni tahap menyatakan opini melalui pemberian dan penerimaan opini pribadi dalam kelompok, mengungkapkan pandangannya bukan melalui kelompok, melainkan melalui kebebasan pribadi, dan menggungkapkan pandangan berdasarkan organisasi. Ketiga, konstruksi politik, yakni tahap yang menghubungkan opini publik dengan kegiatan publik.
Untuk memudahkan menginterpretasikan proses umpan balik, berikut adalah skema sederhana yang menggambarkan proses tersebut:





Sumber: Usman Abu Bakar (2003).
Sistem pengendalian umpan balik merupakan proses mengukur keluaran dari sistem yang dibandingkan dengan suatu standar tertentu. Terdapat empat komponen dalam sistem umpan balik ini. Yakni pertama, suatu karakteristik atau kondisi yang dikendalikan. Kedua, suatu sensor yang mengukur karakteristik atau kondisi tersebut. Ketiga, suatu unit pengendali yang membandingkan hasil ukuran sensor dengan suatu standar. Ke-empat, suatu pengatur yang menghasilkan masukan proses selanjutnya.
Selain sistem pengendalian umpan balik, terdapat sistem pengendalian umpan maju, disebut juga dengan positif feedback. Yakni karakter kerja sistem yang mendorong proses dari sistem supaya menghasilkan hasil balik yang positif. Contoh penerapan dari sistem pengendalian maju pada Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Islam adalah perencanaan atas pengembangan kurikulum. Kompetensi atas suatu mata ajar dapat dideteksi secara lebih dini sedari awal.
Oleh karena itu, apapun alasannya, pendidikan yang baik harus mampu memberi sumbangan pada semua bidang pertumbuhan individu, baik jasmani maupun segi struktural dan fungsional. Pendidikan yang baik juga membantu menumbuhkan kesediaan, bakat-bakat, keterampilan, dan kekuatan jasmaninya, begitu juga memperoleh pengetahuan. dalam bidang pertumbuhan akal (intellectual) pendidikan harus dapat menolong individu untuk meningkatkan, mengembangkan, dan menumbuhkan kesediaan bakat, minat dan kemampuan akalnya dan memberinya pengetahuan dan keterampilan akal yang perlu dalam kehidupannya anak didik.

G. Penutup
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan perlu strategi komprehensip terlebih dahulu. Terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh agar tidak terjadi pemborosan dan hanya untuk pemenuhan kebutuhan perangkat keras saja.
Perkembangan teknologi komunikasi juga akan mempercepat terwujudnya rasa persatuan dari etnik dengan kebudayaanya yang khas. Melalui teknologi informasi akan dapat dikembangkan masyarakat telematika. Yakni masyarakat yang tidak mengenal batas geografi. Melalui jalan informasi (information super highway) maka akan dapat dijalin buka saja solidaritas suatu masyarakat demokrasi hanya dapat terlaksana dengan baik di dalam otonomi daerah.
Mengenai hasil pendidikan yang banyak dikatakan merosot, banyak sarjana menganggur misalnya, dan pendidikan menjamur, sekedar untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi, menurut Sindhudarmoko disebabkan kemajuan teknologi dan kebudayaan lebih cepat dari pendidikan itu sendiri. Ia berpendapat bahwa proses pendidikan itu cenderung tertinggal dari proses perkembangan yang terjadi di masyarakat, artinya kemajuan yang dicapai dibidang pendidikan (out put-nya) selalu ketinggalan dengan apa yang diperlukan masyarakat.
Ungkapan tersebut sama halnya dengan kegelisahan Alvin Toffler sebagaimana pengantarnya dalam Future Shock (kejutan masa depan) yakni: pertama, bahwa kejutan masa depan bukan lagi merupakan bahaya potensial yang masih jauh, tetapi suatu penyakit nyata yang di derita oleh semakin banyak manusia. Kondisi psikologis-biologis ini dapat digambarkan dengan terminologi medis dan psikiatris. Penyakit ini ialah penyakit perubahan.
Kedua, sedikitnya orang yang tahu tentang penyesuaian diri, baik mereka yang menginginkan dan yang menciptakan perubahan besar dalam masyarakat kita, ataupun mereka yang seharusnya mempersiapkan kita untuk menghadapinya yakni dengan sistem “pendidikan demi masa depan”.
Oleh karena itu, informasi sudah tidak menjadi bagian pemenuhan kebutuhan dalam hal-hal tertentu, melainkan sudah menjadi kebutuhan setiap hari bagi siapa saja. Sebab gelombang ketiga tidak hanya mempercepat arus informasi kita, tetapi gelombang inipun mentransformasikan landasan struktur informasi yang selama ini menentukan prilaku sehari-hari. Jadi selama kita tidak cepat merubah Sistem pendidikan sekaligus menginformasikan perubahan tersebut, selama itu juga kita terus ketinggalan kereta.






































DAFTAR PUSTAKA

Aceng Abdullah. 2001. Press Relations, kiat berhubungan dengan media massa. Penerbit Remaja Rosda karya Bandung.
Alvin Toffler. 1992. Kejutan Masa Depan. Alih bahasa Sri koesdiyantinah sb. Penerbit Pantja Simpati Jakarta.
¬¬¬___________. 1992. Gelombang Ketiga (bagian kedua). Alih bahasa Sri Koesdiyantinah sb. Penerbit Pantja Simpati Jakarta.
Dan Nimmo. 1999. Komunikasi Politik, komunikator, pesan, dan media. Alih bahasa tjun surjaman. Pengantar Jalaluddin Rahmat. Penerbit Rosdakarya, Bandung.
Deddy Mulyana. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
Gordon I Zimmerman, James L Owen, dan David R Siebert. Speech Communication: A Contemporary Introduction. St. Paul : west 1977.
Hasan Langgulung. 2000. Asas-asas Pendidikan Islam. Penerbit al husna-zikra, Jakarta.
H.A.R. Tilaar. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan, pengantar pedagogik transformatif untuk Indonesia. Penerbit Grasindo Jakarta.
Rudolph F Verderber. Communicate ! Belmont. California: wodswoeth. 1978.
Jusuf Amir Feisal. 1995. Reorientasi Pendidikan Islam. Penerbit Gema Insania Press, Jakarta.
Mastuhu. 2004. Menata Ulang Pemikiran, sistem Pendidikan Nasional dalam abad 21. penerbit kerjasama Magister Studi Islam UII dengan Safiria Insania Press, jogjakarta.
Muna Haddad Yakan. 1995. Hati-hati Terhadap Media yang Merusak Anak. Penerbit Gema Insania Press, Jakarta.
Onong Uchjana Effendy. 1998. Ilmu Komunikasi, teori dan praktek. Penerbit Remaja Rosdakarya Bandung.
Raymond. Mc Leod. Jr. 1995. Sistem Informasi Manajemen. Alih bahasa Hendra Teguh, editor Hardi Sukardi.
R Wayne Pace & Don F Faules. 1998. Komunikasi Organisasi, strategi meningkatkan kinerja perusahaan. Editor Deddy Mulyana. Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
Sintong Silaban. Dkk. 1993. Pendidikan Indonesia, dalam pandangan lima belas tokoh pendidikan swasta. Penerbit Dasamedia Utama Jakarta. Hal. 188.
Soerjono Soekanto. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sudjana. 2004. Pendidikan Nonformal, wawasan, sejarah perkembangan, filsafat, teori pendukung, dan asas. Penerbit Falah Production Bandung.
Syafaruddin. 2002. Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan, konsep, strategi, dan aplikasi. Penerbit Grasindo, Jakarta.
Tamotsu Shihbutani. 1965. Improvised News, the bobs- Merrill co, inc. Indianopolis.
Usman Abu Bakar. 2004. Materi perkuliahan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Islam.

Jumat, 06 November 2009

PENGEMBANGAN KURIKULUM

A. Interpretasi dan Pengertian Kurikulum
1. Interpretasi Kurikulum
Terdapat berbagai interpretasi dalam mendefinikan artikurikulum”. Tergantung kepada masing-masing kepercayaan filosofi orang per orang, berikut ini adalah beberapa interpretasi tentang kurikulum :
a. kurikulum adalah apa yang diajarkan di sekolah
b. kurikulum adalah seperangkat mata pelajaran/subjek
c. kurikulum adalah konten
d. kurikulum adalah program dari belajar
e. kurikulum adalah seperangkat materi
f. kurikulum adalah urutan pengajaran
g. kurikulum adalah tampilan dari tujuan
h. kurikulum adalah pengajaran
i. kurikulum adalah segala sesuatu yang ada dalam sekolah termasuk kegiatan ekstra kelas, bimbingan, dan hubungan antar personal
j. kurikulum adalah sesuatu yang diajarkan secara langsung oleh sekolah baik di dalam maupun di luar sekolah
k. kurikulum adalah segala sesuatu yang direncanakan oleh personel sekolah
l. kurikulum adalah serangkaian pengalaman yan dijalani pebelajar di sekolah
m. kurikulum adalah suatu pegalaman individual pebelajar sebagai hasil dari pembelajaran di sekolah.

2. Pengertian Kurikulum
Terdapat delapan definisi kurikulum menurut beberapa ahli, yaitu :
a. Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan untuk lulus atau sertifikasi dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran sosial, kurikulum pendidikan fisika (Carter V. Good dalam Oliva, 191:6)
b. Kurikulum adalah seluruh pengalaman siswa di bawah bimbingan guru ( Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell dalam Oliva, 1991:6)
c. Kurikulum adalah sebagai sebuah perencanaan untuk memperbaiki seperangkat pembelajaran untuk seseorang agar menjadi terdidik (J. Galen Saylor, William M. Alexander, and arthur J. Lewis dalam Oliva 1991:6)
d. Kurikulum pada umumnya berisi pernyataan tujuan dan tujuan khusus, menunjukkan seleksi dan organisasi konten, mengimplikasikan dan meanifestasikan pola belajar mengajar tertentu, karena tujuan menuntut mereka atau karena organisasi konten mempersyaratkannya. Pada akhirnya, termasuk di dalamnya program evaluasi outcome (Hilda Taba dalam Oliva, 1991:6)
e. Kurikulum sekolah adalah konten dan proses formal maupun non formal di mana pebelajar memperoleh pengetahuan dan pemahaman, perkembangan skil, perubahan tingkah laku, apresiasi, dan nilai-nilai di bawah bantuan sekolah (Ronald C. Doll dalam Oliva, 1991:7)
f. Kurikulum adalah rekonstruksi dari pengetahuan dan pengalaman secara sistematik yang dikembangkan sekolah (atau perguruan tinggi), agar dapat pebelajar meningkatkan pengetahuan dan pengalamannnya (Danniel Tanner and Laurel N. Tanner dalam Oliva, 1991:7)
g. Kurikulum dalam program pendidikan dibagi menjadi empat elemen yaitu program belajar, program pengalaman, program pelayanan, dan kurikulum tersembunyi (Abert I. Oliver dalam Oliva, 1991:7).
h. Kurikulum mengandung konten (subject matter), pernyataan tujuan (terminal objective), urutan konten, pre-asesmen dari entri skil yang dipersyaratkan pada siswa ketika mulai belajar konten (Roert M. Gagne dalam Oliva, 1991:7).

Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan definisi kurikulum adalah sebagai berikut:
Kurikulum adalah seperangkat perencanaan pengajaran yang sistematik yang berisi pernyataan tujuan, organisasi konten, organisasi pengalaman belajar, program pelayanan, pola belajar mengajar, dan program evaluasi agar pebelajar dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dan perubahan tingkah laku”.

B. Beberapa Istilah dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum dikenal ada lima istilah, yaitu pengembangan kurikulum (Curriculum development), perbaikan kurikulum (curriculum improvement), perencanaan kurikulum (curriculum planning), penerapan kurikulum (curriculum implementation), dan evaluasi kurikulum (curriculum evaluation).
Pengembangan kurikulum dan perbaikan kurikulum merupakan istilah yang mirip tetapi tidak sama. Pengembangan kurikulum merupakan istilah yang lebih komprehensif, di dalamnya termasuk perencanaan, penerapan, dan evaluasi dan berimplikasi pada perubahan dan perbaikan. Sedangkan perbaikan kurikulum sering bersinonim dengan pengembangan kurikulum, walaupun beberapa kasus perubahan dipandang sebagai hasil dari pengembangan.
Perencanaan kurikulum adalah fase pre-eliminer dari pengembangan kurikulum. Pada saat pekerja kurikulum membuat keputusan dan beraksi untuk menetapkan rencana yang akan dilaksanakan oleh guru dan siswa. Jadi perencanaan merupakan fase berfikir atau fase disain.
Penerapan kurikulum adalah menterjemahkan rencana ke dalam tindakan. Pada saat tahap perencanaan kurikulum, terjadi pemilihan pola tertentu organisasi kurikulum atau reorganisasi. Pola-pola tersebut diletakkan dalam tahap penerapan kurikulum. Cara-cara penyempaian pengalaman belajar, misalnya penggunaan tim pengajaran, diambil dari konteks perencanaan dan dibuat operasional. Penerapan kurikulum juga mentermahkan rencana menjadi tindakan dalam kelas, juga aturan pergantian guru dari pekerja kurikulum menjadi instruktur.
Evaluasi kurikulum merupakan fase terakhir dalam pengembangan kurikulum di mana hasilnya diases dan keberhasilan pebelajar dan program ditentukan. Fase ini akan dibahas lebih rinci pada langkah-langkah pengembangan kurikulum.

C. Sepuluh Aksioma dalam Pengembangan Kurikulum
Latar belakang pengembangan kurikulum didasarkan pada sepuluh aksioma yang sudah diyakini kebenarannya dan menjadi argumentasi dan kesimpulan. Aksioma-aksioma tersebut adalah :
1. Perubahan itu tak terelakkan dan penting karena melalui perubahan bentuk kehidupan tumbuh dan berkembang.
2. Kurikulum itu sebagai produk dari masyarakat
3. Perubahan yang terjadi secara bersamaan dan ada perubahan setelah ada kurikulum baru.
4. Perubahan kurikulum terjadi karena ada perubahan dalam masyaakat.
5. Perubahan kurikulum merupakan kerja sama semua kelompok.
6. Perubahan kurikulum merupakan proses pengambilan keputusan.
7. Perubahan kurikulum bersifat berkelanjutan dan tiad akhir.
8. Perubahan kurikulum merupakan proses yang komperehensif
9. Pengembangan kurikulum dilaksanakan secara sistematis.
10. Pengembangan kurikulum beranjak dari kurikulum yang sudah ada/kurikulum yang sudah ada.

D. Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Ada dua pendekatan dalam pengembangan kurikulum yaitu berbasis pada kabupaten/kota dan berbasis pada Sekolah. Pada masing-masing pedekatan mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan-kelebihan pada pendekatan yang berbasis pada kabupaten/kota adalah kesamaan antar sekolah dimungkinkan sehingga memudahkan koordinasi, memudahkan pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh pengawas selaku Pembina Sekolah. Sedangkan kelemahan-kelamahan pada pendekatan pengembangan kurikulum berbasis kabupaten/kota adalah tidak menutup kemungkinan belum secara tepat menyentuh perbedaan karakteristik antar Sekolah, juga sangat dimungkinkan tidak memuaskan pelanggan. Pendekatan berbasis pada Sekolah dalam pengembangan kurikulum memiliki kelebihan-kelebihan di antaranya kurikulum disusun sesuai karakteristik Sekolah, dan lebih banyak memberdayakan di level Sekolah. Sedangkan kelemahan-kelemahan pada pendekatan tersebut adalah mempersulit pengawasan dan pembinaan oleh pengawas karena keragamannya, mempersulit mutasi siswa karena perbedaan kurikulum antar Sekolah.

E. Landasan Pengembangan Kurikulum
Terdapat tiga Landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu landasan filosofi, landasan psikologi, dan landasan sosiologi. Masing-masing landasan sangat berperan dalam langkah pengembangan kurikulum.
1. Landasan Filosofi
Filsafat pada dasarnya adalah suatu pandangan hidup yang ada pada setiap orang. Dengan kata lain bahwa setiap orang mempunyai filsafat dalam arti pandangan hidup pada dirinya. Berkenaan dengan pendidikan, setiap orang mempunyai pandangan tertentu mengenai pendidikan. Berdasarkan pandangan hidup manusia itulah tujuan kurikulum dirumuskan.
Terdapat lima aliran filsafat pendidikan, yaitu filsafat perenialisme, essensialisme, eksistensialisme, progresivisme, dan konstruktivime. Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.

2. Landasan Psikologi
Terdapat dua landasan psikologi yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu psikologi belajar (psychology of learning) dan psikologi perkembangan. Psikologi belajar digunakan sebagai landasan dalam men-screen tujuan pembelajaran umum/standar kompetensi/SK (tentative general objective) yang sudah dirumuskan untuk merumuskan precise education (kompetensi dasar/KD), dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar yang akan dirumuskan dalam kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan lebih berperan dalam pengorganisasian pengalaman-pengalaman belajar, yaitu pada tingkat pendidikan mana atau pada kelas berapa suatu pengalaman belajar tertentu harus diberikan karena harus sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Pada dasarnya dua landasan psikologi tersebut sangat diperlukan dalam pengebangan kurikulum yaitu pada langkah merumuskan tujuan pembelajaran, menyeleksi serta mengorganisasi pengalaman belajar.

3. Landasan Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Jadi sosiologi mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain. Dengan kata lain sosiologi berkaitan dengan aspek sosial atau masyarakat.
Sosiolologi mempunyai empat perenan yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum. Empat peranan sosiologi tersebut adalah berperan dalam proses penyesuaian nilai-nilai dalam masyarakat, berperan dalam penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat, berperan dalam penyediaan proses sosial, dan berperan dalam memahami keunikan individu, masyarakat dan daerah.
Dalam merumuskan tujuan kurikulum harus memahami tiga sumber kurikulum yaitu siswa (student), masyarakat (society), dan konten (content). Sumber siswa lebih menekankan pada kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan siswa pada tingkat pendidikan tertentu yang sesuai dengan perkembangan jiwa atau usianya. Sumber masyarakat lebih melihat kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, sedangkan sumber konten adalah berhubungan dengan konten kurikulum yang akan dikembangkan pada tingkat pendidikan yang sesuai. Dengan kata lain landasan sosiologi digunakan dalam pengembangan kurikulum dalam merumuskan tujuan pembelajaran dengan memperhatikan sumber masyarakat (society source) agar kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

F. Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum
Pegembangan kurikulum meliputi empat langkah, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran (instructional objective), menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar (selection of learning experiences), mengorganisasi pengalaman-pegalaman belajar (organization of learning experiences), dan mengevaluasi (evaluating).
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (instructional objective)
Terdapat tiga tahap dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tahap yang pertama yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah memahami tiga sumber, yaitu siswa (source of student), masyarakat (source of society), dan konten (source of content). Tahap kedua adalah merumuskan tentative general objective atau standar kompetensi (SK) dengan memperhatikan landasan sosiologi (sociology), kemudian di-screen melalui dua landasan lain dalam pengembangan kurikulum yaitu landasan filsofi pendidikan (philosophy of learning) dan psikologi belajar (psychology of learning), dan tahap terakhir adalah merumuskan precise education atau kompetensi dasar (KD).
2. Merumuskan dan Menyeleksi Pengalaman-Pengalaman Belajar ( selection of learning experiences)
Dalam merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam pengembangan kurikulum harus memahami definisi pengalaman belajar dan landasan psikologi belajar (psychology of learning). Pengalaman belajar merupakan bentuk interaksi yang dialami atau dilakukan oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Pengalaman belajar yang harus dialami siswa sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan objek belajar. Belajar berlangsung melalui perilaku aktif siswa; apa yang ia kerjakan adalah apa yang ia pelajari, bukan apa yang dilakukan oleh guru. Dalam merancang dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar juga memperhatikan psikologi belajar.
Ada lima prinsip umum dalam pemilihan pengalaman belajar. Kelima prinsip tersebut adalah pertama, pengalaman belajar yang diberikan ditentukan oleh tujuan yang akan dicapai, kedua, pengalaman belajar harus cukup sehingga siswa memperoleh kepuasan dari pengadaan berbagai macam perilaku yang diimplakasikan oleh sasaran hasil, ketiga, reaksi yang diinginkan dalam pengalaman belajar memungkinkan bagi siswa untuk mengalaminya (terlibat), keempat, pengalaman belajar yang berbeda dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama, dan kelima, pengalaman belajar yang sama akan memberikan berbagai macam keluaran (outcomes).

3. Mengorganisasi Pengalaman Pengalaman Belajar (organization of learning experiences).
Pengorganisasi atau disain kurikulum diperlukan untuk memudahkan anak didik untuk belajar. Dalam pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal penting yang mendukung, yakni: tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan, perkembangan anak didik, dan kebutuhan masyarakat. Pengorganisasian kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Oleh karena itu kurikulum menentukan apa yang akan dipelajari, kapan waktu yang tepat untuk mempelajari, keseimbangan bahan pelajaran, dan keseimbangan antara aspek-aspek pendidikan yang akan disampaikan.


a. Jenis Pengorganisasian Kurikulum
Pengorganisasian kurikulum terdiri atas beberapa jenis, yakni: (1) Kurikulum berdasarkan mata pelajaran (Subject curriculum) yang mencakup mata pelajaran terpisah-pisah (separate subject curriculum), dan mata pelajaran gabungan (correlated curriculum). (2) Kurikulum terpadu (integrated curriculum) yang berdasarkan fungsi sosial, masalah, minat, dan kebutuhan, berdasarkan pangalaman anak didik, dan (3) berdasarkan kurikulum inti (core curriculum).
1) Subject Curriculum
a) Separate curriculum
Tujuan dari kurikulum ini untuk mempermudah anak didik mengenal hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia tanpa perlu mencari dan menemukan kembali dari apa yang diperoleh generasi sebelumnya. Sehingga anak didik dapat membekali diri dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya. Dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan telah tersusun secara logis dan sistematis tidak hanya untuk memperluas pengetahuan tetapi juga untuk untuk memperoleh cara-cara berpikir disiplin tertentu.
Keuntungan kurikulum ini, antara lain: (1) memberikan pengetahuan berupa hasil pengalaman generasi masa lampau yang dapat digunakan untuk menafsirkan pengalaman seseorang. (2) mempunyai organisasi yang mudah strukturnya. (3) mudah dievaluasi terutama saat ujian nasional akan mempermudah penilaian. (4) merupakan tuntutan dari perguruan tinggi dalam penerimaan mahasiswa baru. (5) memperoleh respon positif karena mudah dipahami oleh guru, orangtua, dan siswa. (6) mengandung logika sesuai dengan disiplin ilmu nya. Kelemahan kurikulum berdasarkan mata pelajaran antara lain: terlalu fragmentasi, mengabaikan bakat dan minat siswa, penyusunan kurikulumnya menjadi tidak efisien, dan mengabaikan masalah sosial.
b) Corelated curriculum
Kurikulum ini merupakan modifikasi kurikulum mata pelajaran. Agar pengetahuan anak tidak terlepas-lepas maka perlu diusahakan hubungan antara dua matapelajaran atau lebih yang dapat dipandang sebagai kelompok namun masih mempunyai hubungan yang erat. Sebagai contoh, saat mengajarkan sejarah ada beberapa mata pelajaran yang berkaitan seperti geografi, sosiologi, ekonomi, antropologi, dan psikologi. Dan mata pelajaran yang digabungkan tersebut menjadi ‘broad field’. Namun demikian tidak bisa mengenyampingkan tujuan instruksionalnya atau yang sekarang lebih dikenal dengan kompetensi dasar, prinsip-prinsip umum yang mendasari, teori atau masalah di sekitar yang dapat mewujudkan gabungan itu secara wajar. Dengan menggunakan kurikulum gabungan diharapkan akan mencegah penguasaan bahan yang terlalu banyak sehingga akan menjadi dangkal dan lepas-lepas sehingga pada gilirannya akan mudah dilupakan dan tidak fungsional. Pada praktiknya kurikulum gabungan ini kurang dipahami para guru sehingga walaupun namanya ‘broad-field’ pada hakikatnya tetap separate subject-centered.
2) Integrated Currikulum
Kurikulum terpadu mengintegrasikan bahan pelajaran dari berbagai matapelajaran. Integrasi ini dapat tercapai bila memusatkan pelajaran pada masalah tertentu yang memerlukan pemecahan dari berbagai didiplin ilmu. Sehingga bahan mata pelajaran dapat difungsikan menjadi alat untuk memecahkan masalah. Dan batas-batas antara mata pelajaran dapat ditiadakan. Pengorganisasian kurikulum terpadu ini lebih banyak pada kerja kelompok dengan memanfaatkan masyarakat dan lingkungan sebagai nara sumber, memperhatikan perbedaan individual, serta melibatkan para siswa dalam perencanaan pelajaran. Selain memperoleh sejumlah pengetahuan secara fungsional, kurikulum ini mengutamakan pada proses belajarnya. Kurikulum ini fleksibel, artinya tidak mengharapkan hasil belajar yang sama dengan siswa yang lain. tanggungjawab pengembangannya ada pada guru, orangtua, dan siswa.
3) Core Curriculum
Munculnya kurikulum inti ini adalah atas dasar pemikiran bahwa pendidikan memberikan tekanan kepada dua aspek yang berbeda, yakni: (1) adanya reaksi terhadap mata pelajaran teori yang bercerai-berai yang mengakumulasi bahan dan pengetahuan. (2) Adanya perubahan konsep tentang peranan sosial pendidikan di sekolah.
Dengan demikian, kurikulum inti memberikan tekanan pada keperluan sosial yang berbeda terutama pada persoalan dan fungsi sosial. Sehingga konsep kurikulum inti bersifat ‘society centered’, dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) penekanan pada nilai-nilai sosial, (2) struktur kurikulum inti ditentukan oleh problem sosial dan per-kehidupan sosial, (3) pelajaran umum diperuntukkan bagi semua siswa, (4) aktivitas direncanakan oleh guru dengan siswa secara kooperatif.
b. Kriteria Pengorganisasian Pengalaman Belajar yang Efektif
Terdapat tiga kriteria utama dalam mengorganisasi pengalaman belajar, yaitu kontinuitas (continuity), berurutan (sequence), dan terpadu (integrity). Kriteria kontinuitas mengacu pengulangan elemen kurikulum yang penting pada kelas/level yang berbeda. Artinya pada waktu berikutnya pada kelas/level yang lebih tinggi pengetahuan dan skil yang sama akan diajarkan dan dilatihkan kembali dengan dikembangkan sesuai dengan psikologi belajar dan psikologi perkembangan anak. Kriteria berurutan (sequence) adalah berhubungan dengan kontinuitas tetapi lebih ditekankan kepada bagaimana urutan pengalaman belajar diorganisasi dengan tepat pada kelas/level yang sama. Pengetahuan yang menjadi prasyarat akan disajikan sebelum pengetahuan lain yang memerlukan pengetahuan prasyarat tersebut. Kriteria terpadu (integrity) artinya mencakup ruang lingkup/scope pengetahuan dan skill yang diberikan kepada siswa, apabila pengetahuan diperoleh dari berbagai sumber, maka akan dapat saling menghubungkannya, saat menghadapi suatu masalah.

c. Elemen-elemen yang Diorganisasi
Elemen-elemen yang diorganisasi ada tiga yaitu konsep (concept), nilai (values), dan ketrampilan (skill). Konsep adalah berhubungan konten pengalaman belajar yang harus dialami siswa, nilai adalah berhubungan dengan sikap pebelajar baik terhadap dirinya sendiri maupun sikap pebelajar kepada orang lain. Sedangkan ketrampilan dalam hal ini adalah kemampuan menganalisis, mengumpulkan fakta dan data, kemampuan mengorganisasi an menginterpretasi data, ketrampilan mempresentasikan hasil karya, ketrampilan berfikir secara independen, ketrampilan meganalisis argumen, ketrampilan berpartisipasi dalam kelompok kerja, ketrampilan dalam kebiasaan erja yang baik, mampu mengiterpretasi situasi, dan mampu memprediksi konsekuesi dari tujuan kegiatan.

d. Prinsip-prinsip Pengorganisasian
Terdapat dua prinsip dalam mengorganisasikan kurikulum sekolah atau pengalaman belajar. Pengorgaisasian kurikulum harus bersifat kronologis (chronological) dan aplikatif. Kronologis artinya pengalaman belajar harus diorganisasi secara tahap demi tahap sesuai dengan pskologi belajar dan psoikologi perkembangan siswa. Sedangkan aplikatif berarti pengalaman belajar harus benar-benar dapat diterapkan kepada siswa.

4. Mengevaluasi (evaluating) Kurikulum
Langkah terakhir dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan di mana data yang terkumpul dan dibuat pertimbangan untuk tujuan memperbaiki sistem. Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial dalam pengembangan kurikulum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat keputusan , sedangkan riset sebagai proses pengumpulan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Perencana kurikulum menggunakan berbagai tipe evaluasi dan riset. Tipe-tipe evaluasi adalah konteks, input, proses, dan produk. Sedagkan tipe-tipe riset adalah aksi, deskripsi, historikal, dan eksperimental. Di sisi lain perencana kurikulum menggunakan evaluasi formatif (proses atau progres) dan evaluasi sumatif (outcome atau produk).
Terdapat dua model evaluasi kurikulum yaitu model Saylor, Alexander, dan Lewis, dan model CIPP yang didisain oleh Phi Delta Kappa National Study Committee on Evaluation yang diketuai Daniel L. Stufflebeam.
Menurut model Saylor, Alexander, dan Lewis terdapat lima komponen kurikulum yang dievaluasi, yaitu tujuan (goals, subgoals, dan objectives), program pendidikan secara keseluruhan (the program of education as a totality), segmen khusus dari program pendidikan ( the specific segments of the education program, pembelajaran (instructional), dan program evaluasi (evaluation program). Komponen pertama, ketiga, dan keempat mempunyai konttribusi pada komponen kedua (program pendidikan secara keseluruhan). Pada komponen kelima, program evaluasi, disarankan sangat perlu untuk mengevaluasi evaluasi program itu sendiri, sebab hal ini suatu operasi idependen yang mempunyai implikasi pada proses evaluasi.
Pada model CIPP mengkombinasikan tiga langkah utama dalam proses evaluasi, yaitu penggambaran (delineating), perolehan (obtainin), dan penyediaan (providing); tiga kelas seting perubahan yaitu homeostastis, incrementalisme, dan neomobilisme); dan empat tipe evaluasi (konteks, input, proses, dan produk); serta empat tipe keputusan ( planning, structuring, implementing, dan recycling).
Evaluator kurikulum yang dipekerjakan oleh sistem sekolah dapat berasal dari dalam maupun dari luar. Banyak evaluasi kurikulum dibebankan pada guru-guru di mana mereka bekerja. Dalam mengevaluasi harus memenuhi empat standar evaluasi yaitu utility, feasibility, propriety, dan accuracy.
Evaluasi kurikulum merupakan titik kulminasi perbaikan dan pengembangan kurikulum. Evaluasi ditempatkan pada langkah terakhir, evaluasi mengkonotasikan akhir suatu siklus dan awal dari siklus berikutnya. Perbaikan pada siklus berikutnya dibuat berdasarkan hasil evaluasi siklus sebelumnya.




DAFTAR RUJUKAN
Bafadal. Ibrahim. 2007. Catatan Kuliah Manajemen Pengembangan Kurikulum di Prodi Manajemen Pendidikan Program Pasca Sarjana (S2-Sandwich) UM. Malang

Oliva, Peter F. 1992. Developing The Curriculum 3rd Edition. New York: Harper Collins Publishers.

Sukmadinata, Nana Saodih. 2007. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tyler, Ralph W. 1973. Basic Principles of Curriculum and Instruction. London: Lowe and Brydone (Printers) Ltd .